Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Perkenalan

Namaku adalah Dwi Widia Ningrum. Lahirku di kota tepian Samarinda yang letaknya di provinsi Kalimantan Timur wilayah Indonesia, sehingga aku asli orang Negara Kesatuan Republik Indonesia. 20 Mei 1996 adalah tanggal lahirku sekaligus hari Kebangitan Nasional lhoo hehe hanya sekedar info. Dan aku anak ke-2 dari dua bersaudara, dapat dilihat dari namanya ya. Saat aku menulis ini sudah dapat ditebak umurku berapa jadi aku tidak perlu kasih tau lagi dong ya. Singkat itu adalah biodataku. Untuk saat ini, saat aku menulis ini aku masih seorang Mahasiswi di Universitas Mulawarman Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia. Sekian itu tentang diriku, tidak banyak tapi bisa sedikit mengenal diriku. Salam Hangat Dwi Widia Ningrum

KALIMATKU, UNTUKMU

Cinta tak semudah kau hanya mengucapkan rasa Cinta tak semudah kau hanya mengucapkan janji Cinta tak semudah kau hanya mengucapkan rindu Dan cinta tak semudah kau hanya mengucapkan ingin berdua Tentang perbedaan yang harus disatukan Tentang sebuah kerinduan yang harus diurai Tentang sebuah rasa yang harus ditelaah Tentang apa yang hilang sebagian darimu disatukan Berbagai kata kusampaikan dengan rapih Mengingat bisa jadi aku bukan sebagianmu Tak kusampaikan segelas rasa Bahkan sepaket rindu Mempertahankan dengan kerendahan hati Memahami dengan berjuta prasangka Memandang dengan penuh kebaikan Mendengar dengan penuh keterbukaan Sepertinya kau tak cukup mengerti Terlalu lama untuk kau menunggu Terlalu sulit untuk kau pahami Terlalu jauh untuk kau jalani Kini aku pun tak cukup kuat untuk menggenggammu Jari demi jari kau lepaskan Tempat terbaik telah kutawarkan Ternyata pergi adalah pilihanmu Cukup diamku dan diammu ditempat ...

SEPUCUK TAWA

Benar jika malam itu kau datang Benar jika malam itu kau menyapa Benar jika malam itu kau bersua Salah kah aku menyambut Salah kah aku mempersilakan Untuk tetap sepanjang malam Kau mungkin bergurau Tapi aku lebih bergurau Jadinya tak lebih menciptakan tawa Satu kata tak bermakna Setelahnya bermakna Dan sepertinya aku terlalu ringan hingga larut Sungguh itu hanyalah lelucon yang berusaha kita buat Sungguh keesokannya kau lebih sangat bergurau Dan aku lebih dari sangat bergurau Begitu keesokannya engkau menepi Dan aku berhenti Tak ada lagi lelucon yang terbingkai Sungguh itu adalah “Sepucuk Tawa” Sepucuk tawa yang hanya ada pada malam itu, keesokan dan keesokannya Aku bertanya, tapi kau tak berusaha menjawab Tak ada lagi keesokan yang kutunggu Yang   tertinggal hanyalah sepucuk tawa di tepi Begitu saja tanpa bertuan Sungguh ini benar-benar sepucuk tawa Beberapa saat kita menciptakan tawa Dan beberapa saat kemudi...

Harus Bagaimana Aku?

Saya pernah berpikir bahwa menjadi orang baik cukuplah untuk menjadikan diri ini tak mendapatkan masalah, cukup untuk mendapatkan orang-orang disekitar kita, cukup untuk mendapatkan hal-ha yang selalu cukup baik. Tapi.. ternyata segala sesuatu di dunia bisa menjadi binasa jika kita tidak hati-hati, kita dapat dimakan oleh dunia yang cukup lapar akan hal-hal sekecil saya yang tidak tahu bagaimana harus menjinakkan dunia jika binasa sudah terjadi. Bagaimana aku harus menghadapi seseorang yang selalu baik, namun terkadang meninggalkan kekesalan dan kesedihan? Bagaimana aku harus menghadapi seseorang yang terkadang terlihat egois? Bagaimana aku harus menghadapi seseorang yang begitu selalu membuat kesedihan dan luka? Dunia banyak mengajarkan betapa didunia kau pun harus memiliki sesuatu untuk tetap bertahan berpijak di keseharianmu, apakah aku yang memang sangat lemah atau bagaimana? Aku selalu mempersilakan buat mereka, mungkin karena ini mereka selalu memanda...